Showing posts with label Adventure. Show all posts

Sekilas Pecinta Alam


Pecinta alam berasal dari dua suku kata “CINTA” dan “ALAM”. Secara harfiah cinta berarti sebuah rasa yang timbul dari dalam kalbu yang mendorong seseorang yang mempunyai rasa tersebut untuk melakukan sebuah tindakan. Sedangkan alam berarti segala bagian yang terdapat dimuka bumi baik hidup maupun mati. Secara luas Pecinta Alam didefinisikan untuk seseorang yang memiliki rasa dalam kalbu terhadap segala bagian dari bumi ini sehingga mendorong seseorang tersebut untuk melakukan sesuatu.
Sekarang pertanyaannya adalah apakah seseorang yang pecinta dan penyayang binatang adalah seseorang pecinta alam ? atau seseorang penggemar bunga itu juga seorang pecinta alam ?. dalam sekala kecil jawabanya adalah “YA”. Mengapa karena mereka mempunyai rasa dari dalam kelbu terhadap apa yang disukainya sehingga mendorong mereka melakukan tindakan. Tapi disinilah pengertian Pecinta Alam dan kehidupannya atau prinsip-prinsip dalam yang berlaku pada masyarakat.
Mengapa kegiatan mencintai alam begitu identik dengan bertualang mendaki gunung, merayap ditebing-tebing terjal ataupun menyusuri lorong-lorong gua yang gelap hanya diterangi seberkas sinar? Alam yang garang dan keras menjanjikan sebuah kehidupan yang dibungkus sebuah keindahan, sehingga seribu bahaya seolah merupakan daya tarik tersendiri bagi sekelompok orang. Itulah yang mendorong sebagian orang untuk mendaki gunung dengan tas ransel dipunggungnya, merayap ditebingan terjal atau menyusuri lorong gua yang gelap. Adalah hal yang tak lazim dilakukan orang lain kebanyakan, maka akan dilakukanya.
Prof. Dr. Hamka (1983) dalam kutipan “Bahwasanya memperhatikan keindahan alam itu, menambah harga diri” ATLATHUM (Plato)
Seorang pecinta alam haruslah peka akan gejala alam, harus tau akan ciri alam, karena kita hidup ditengah-tengah alam, karena kita adalah bagian dari alam. Dari alamlah manusia akana menghadapi kesulitan atau hambatan-hambatan baik yang kecil ataupun berisiko besar. Disadari atau tidak manusia terdapat keinginan untuk mengalami kesukaran atau hambatan, apakah untuk kepuasan egonya ataupun untuk meniknati penderitaan itu sendiri (Babulhairien.2005)
Secara garis besar, pecinta alam dibagi dalam dua bagian yaitu:
      1.            Pecinta Alam Outdoor, yaitu pecinta alam yang bergelut dialam bebas dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing
      2.            Pecinta Alam Indoor, yaitu pecinta alam yang kapasitas dan kemampuannya hanya cukup untuk didalam ruangan dan tidak aktif dialam bebas, dengan hanya memproses hasil penelitian didalam ruangan.
Tidak semua orang dapat mencintai alam dengan bergerak aktif dialam bebas, tapi ada sebagian yang mempunyai keinginan yang kuat untuk mencintai alam dan tidak bisa bergerak dialam bebas dengan segala keterbatasnnya. Alam ini begitu indah, sungguh sangat rugi untuk melewatkanya. Karena pada dasarnyaTuhan YME menciptakan alam dengan segala isinya untuk kebahagiaan umat manusia, agar umat manusia itu bersyukur kepadanya.
            Sayid Mustafa Luthfi Al Manfaluhi dalam bukunya MAJDULIN, berkata tentang alam dan kebahagiaan : “Carilah kebahagiaan didalam rimba dan belukar, dibukit-bukit, dikebun dan kayu-kayu, didaun yang hijau dan bunga yang mekar, didanau dan sungai yang mengalir. Carilah bahagia pada sang surya, yang terbit pagi hari dan terbenam sore, pada awan yang sedang bergerak dan berkumpul, pada binatang yang sedang berkelap keli, pada burung yang sedang hinggap dan terbang,dan yang tetap ditempatnya. Carilah kebahagiaan dikebun bunga dekat rumahmu, dibadarnya yang baru dibikin dibarisan tamannya yang baru diatur. Carilah dipinggir sungai sambil berenung, dipuncak-puncak bukit yang didaki dengan payah, kedalam lurah yang dituruni. Carilah ketika mendengar aliran air ditengah malam, pada bunyi anginan sepoi-sepoi basah, pada persentuhan daun kayu yang hendak lurut, pada bunyi jangkrik tengah malam, dan bunyi kata ditengah sawah. Dalam semua yang disebutkan tadi itu tersimpanlah bahagia yang sejati, yang indah, mulia, murni, sakti yang menyuruh paham menjalar, menyuruh perasaan menjalar kedalam keindahan, menghidupankan hati yang telah mati, mendatangkan ketentraman yang sejati dalam lapangan hayat”.
            Apakah seorang pecinta alam harus bergaya urakan dengan jeans butut yang sobek disana sini, baju kaos, memakai gelang segala tali, rambut gondrong, atau kalau perlu kompor parafin digantungnya. Sehingga begitu bangganya dia berjalan, orang lain berdecak kagum dan berkata “Pasti Pecinta Alam”. Tapi tunggu dulu, seseorang yang mencintai alam terlebih dahulu harus mencintai dirinya sendiri, itu akan terlihat dari pola kehidupannya sehari-hari. Salah satu cermin tindakan mencintai diri sendiri adalh dengan berpenampilan rapi dan sedap dipandang mata. Pecinta alam tidak harus urakan dan tidak rapi, KARENA PECINTA ALAM BUKANLAH SEBUAH STYLE ATAU GAYA. Tapi adalh sebuah tindakan yang mendedikasikan dirinya mencintai diri sendiri, sesama makhluk hidup dan alam.



Berdasarkan hal diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang pecinta alam adalah seorang peminat alam baik isinya maupun sifat-sifatnya yang menyadari kedudukannya sebagai manusia dalam populasi yang hidup dalam suatu ekosistem ditengah alam yang juga memiliki tanggung jawab moral terhadap kelestarian alam sekitarnya.
Jadi dalam mengikuti kegiatan pecinta alam perlu disadari dan dipahami dengan jelas akan tujuan bagi dirinya sendiri, apakah hanya untuk gagah-gagahan, bertualang, rekreasi ataupun penelitian. Dengan menyadari tujuan pecinta alam, mudah-mudahan kita akan tahu makna dan daya gunanya serta mendapatkan yang terbaik untuk kita.

            “Putra-Putri Indonesialah yang lebih mampu menguasai alam Indonesia. Oleh karena itu Putra-Putri Indonesia sendirilah yang dapat berbicara dengan nalurinya untuk mengenal watak dan kepribadian Ibunya, ibu Pertiwi dan Tanah Air Indonesia”. Soekarno

CAVING (SUSUR GUA)


Caving diambiil dari kata “CAVE” yang dapat diartikan sebagai kegiatan penelusuran goa. Caving erat hubunganya dengan Speleologi, yakni ilmu yang mempelajari tentang goa. Seseorang yang melakukan caving disebut Caver. Sehingga kegiatan caving dan speleologi tidak dapat dipisahkan karena saling keterkaitan dan saling mendukung satu sama lain.
            Dalam menelusuri goa seyogyanya seorang caver dapat mendata serta memetakan goa yang ia telusuri, baik goa vertikal maupun horizontal. Hal ini berguna untuk mendeskripsikan gambaran keadaan secara lebih faktual dan ilmiah, sehingga dapat ditarik kesimpulan secara global dan tepat untuk tujuan lainnya.
Penelusuran gua merupakan kegiatan kelompok, karenanya dalam setiap penelusuran tidak dibenarkan seorang diri. Jumlah minimal untuk sebuah eksplorasi gua adalah 4 orang. Hal ini didasarkan atas pertimbangan, jika terjadi kecelakaan pada salah seorang anggota kelompok, satu orang dibutuhkan untuk menjaganya, sedangkan dua lainnya mempersiapkan pertolongan atau rescue, atau kalau tidak mungkin, cari pertolongan kepada penduduk. (Belantara indonesia.2010)
Untuk lebih mudahnya sebagai caver hendaknya mempunyai respek terhadap lingkungan dan cuaca, masyarakat sekitar, kemampuan sesama caver, penelitian, dan instansi jika diperlukan. Satu hal yang harus diresapi dan disadari oleh setiap penelusur gua yaitu masalah “konservasi”. Prinsip yang biasa dipakai dalam etika penelusuran gua adalah ‘take nothing but picture, leave nothing but footprint, kill nothing but time’. (Belantara indonesia.2010)
Agar penelusuran lebih aman maka caver mempersiapkan perlengkapan dasar, pengetahuan dan ketrampilan baik tentang gua, alat dan penggunaanya, serta teknik atau cara penelusuran yang akan lebih terasah dengan berlatih. Hal ini dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi di dalam gua. Dalam setiap musibah, setiap caver wajib bertindak dengan tenang, tanpa panik, dan wajib patuh pada instruksi leader penelusuran.



Dalam penelusuran horisontal, kita melakukan gerakan jalan membungkuk, merangkak, merayap, tengkurap, dan kadang terlentang, menyelam serta berenang. Dengkul dan ujung siku merupakan sisi penting buat seorang penelusur atau caver. Bentuk tubuh juga mempengaruhi kecepatan gerak seorang penelusur gua. Beberapa hal lain yang seharusnya dilakukan adalah pelaporan ataupun publikasi. (Belantara indonesia.2010)
Dalam kegiatan penelusuran gua, maka caver harus mengikuti kewajiban sebagai berikut :
ü  Menjaga lingkungan baik kebersihan, kelestariannya, dan kemurniannya.
ü  Konservasi lingkungan gua merupakan tujuan utama penelusur goa. 
ü  Wajib memberi pertolongan kepada penelusur lain apabila membutuhkan pertolongan sesuai dengan kemampuan. 
ü  Menjaga sopan santun dengan penduduk sekitar. 
ü  Izin resmi
Wajib memberitahukan kondisi berbahaya pada penelusur lain tentang kondisi sekitar lingkungan goa atau di dalam goa. (Gollert.y.2013)

SEJARAH PENELUSURAN GUA
Pada masa primitif, gua dihuni oleh manusia primitif sebagai tempat bermukim, berlindung, kuburan dan untuk pemujaan roh-roh leluhur yang terdahulu. Tahun 1674, John Beumont seorang ahli bedah dan ahli geologi amatir dari Samerset Inggris melakukan pencatatan laporan ilmiah tentang penelusuran gua Suruman (Photoling) yang pertama kali diakui oleh Brtish Royal Society. Tahun 1670-1680 Baron Johan Valsator dari Slovenia adalah orang yang pertama melaukan deskripsi terhadap 70 gua dalam bentuk laporan ilmiah lengkap dengan komentar, sketsa dan peta sebanyak 4 jilid dengan total mencapai 2.800 hal. Atas jasanya Britsh Royal Society memberikan penghargaan ilmiah kepadanya. Tahun 1818, kaisar Habsburg Francis I adalah orang yang pertama melakukan kegiatan wisata didalam gua yaitu saat mengunjungi gua Adelsberg (sekarang gua Postinja di Eks Yuguslavia). (Chirtopher/M-04099.BS)
Josip Jersinovic adalah seorang pejabat pertama yang melakukan pengelolaan gua secara propesional. Tahun 1838 seorang pengacara Franklin Gorin adalah tuan tanah yang memiliki areal dimana gua terbesar dan terpanjang di dunia yaitu Mam Month Cave di Kentucky AS. Olehnya gua tersebut dikomersialkan dan mempekerjakan seorang Mullato bernama Stephen Bishop berumur 17 tahun sebagai budak penjaga gua tersebut.
Stephen Bishop sianggap sebagai pemandu wisata gua profesional yang pertama (Cave Guide). Mam Month Cave sendiri terdiri dari ratusan lorong (Stephen Bishop menemukan sekitar 222 lorong) dengan panjang 300 mil, hingga kini belum selesai diteliti dan ditelusuri. Tahun 1983 oleh Union Of Speleology Mom Month Cave diakui oleh PBB sebagai salah satu warisan dunia (World Herritage). (Chirtopher/M-04099.BS)
Tahun 1868-1888 pada masa ini diakui sebagai saat lahirnya ilmu Speleology yang dipelopori oleh Edoard Alfret Martel (1859-1938) berkat usaha kerasnya selama 5 tahun yang diakui sebagai bapak speleology dunia. Semua yang dia lakukan merupakan kempanye penelusuran gua yang berisi metoda yang menggabungkan bidang ilmu riset dasar dalam ekplorasi gua hingga hingga dapat dilakukan suatu penelitian yang multi disipliner dan interdisipliner. Metoda tersebut diakui oleh para ahli sebagai cara yang paling tepat, konstruktif dan efesien dalam meneliti lingkungan gua, bahkan tata cara tersebut dianggap sebagai pokok penerapan disiplin, tata tertib, etika dan moral kegiatan speleology modern pada masa sekarang.
SPELEOLOGY
Ilmu yang mempelajari tentang gua dan lingkungannya disebut Speleology. Berasal dari bahasa Yunani yaitu spelalion = gua, dan logos = ilmu, lingkungan sekitar gua dapat berupa aliran lava yang membeku, batu pasir (sandstone), batu gamping (karts), gletser dan sebagainya. Ada juga istilah spelunca (bahasa latin dari gua). Di Indonesia istilah yang paling sering dipakai adalah penelusuran gua (caving) tanpa merujuk tujuannya masuk gua.
Goa memiliki sifat khas dalam mengatur suhu di dalamnya,  yaitu pada saat udara luar panas maka di dalam goa akan sejuk, begitu juga sebaliknya. Di Indonesia speleologi tergolong ilmu yang masih muda. Speleologi baru berkembang sekitar tahun  1980 dengan berdirinya sebuah club yang bernama SPECAVINA yang didirikan oleh Norman Edwin dan dr. R.K.T Ko ketua HIKESPI. Kemudian muncul Club Speleologi yang lain :
ü  BSC                            = Bogor Speleologi Club
ü  DSC                            = Denpasar Speleologi Club
ü  SKALA                       = Speleo Club Malang
ü  SSS                             = Salamander Speleo Surabaya
ü  JSC                              = Jakarta Speleo Club
ü  ASC                            = Acintyacunyata Speleological Club
             Dari sekian banyak club speleological, club yang merupakan club aktif hingga saat ini adalah Acintyacunyata Speleological Club (ASC) yang berada di yogyakarta.
            Gua merupakan salah satu ciri khas kawasan karst. Kawasan karst atau gunung gamping merupakan kawasan yang unik serta kaya akan sumber daya hayati dan non hayati. Indonesia mempunyai kawasan karst seluas 20% dari total wilayahnya. Salah satu kawasan karst di Indonesia yang dikenal sebagai Gunung Sewu pernah didengungkan akan dicalonkan sebagai salah satu Warisan Dunia (World Heritage) karena keunikannya
Dalam Speleology banyak bidang ilmu, diantaranya yakni :
                              1.            Geologi            : Speleogenesis, Hidrogeologi
                              2.            Geografi          : Morfologi karst, Hidrologi permukaan, Karstologi
                              3.            Biologi             : Biospeleologi
                              4.            Pariwisata        : Ekowisata, Wisata minat khusus
Di dalam kegiatan alam bebas banyak sekali hubungan antara kegiatan yang satu dengan kegiatan spleologi ini misalnya:
Mounteneering            = Tracking, Packing, Pelacakan Mulut Gua
Panjat Tebing              = Rigging, Chimneying, Bridging,
Arung Jeram                = Water Rafting
Diving                         = Melewati celah celah yang ada di dalam air
Gantole                        = Pelacakan mulut goa dari udara
Canyoning                   = Repeling di air terjun
Vertical Rescue           = Self rescue, tim rescue



DEFINISI KARST
Istilah karst yang dikenal di Indonesia sebenarnya diadopsi dari bahasa Yugoslavia/Slovenia. Istilah aslinya adalah ‘krst / krast' yang merupakan nama suatu kawasan di perbatasan antara Yugoslavia dengan Italia Utara, dekat kota Trieste .
Ciri-ciri daerah karst antara lain :
ü  Daerahnya berupa cekungan-cekungan
ü  Terdapat bukit-bukit kecil
ü  Sungai-sungai yang nampak dipermukaan hilang dan terputus ke dalam tanah.
ü  Adanya sungai-sungai di bawah permukaan tanah
ü  Adanya endapan sedimen lempung berwama merah hasil dari pelapukan batu  gamping.
ü  Permukaan yang terbuka nampak kasar, berlubang-lubang dan runcing.

Proses Terbentuknya Gua
Tahap awal, air tanah mengalir melalui bidang rekahan pada lapisan batu gamping menuju ke sungai permukaan. Mineral-mineral yang mudah larut dierosi dan lubang aliran air tanah tersebut semakin membesar. Sungai permukaan lama-lama menggeruk dasar sungai dan mulai membentuk jalur gua horisontal.
            Setelah semakin dalam tergeruk, aliran air tanah akan mencari jalur gua horisontal yang baru dan langit - langit atas gua tersebut akan runtuh dan bertemu sistem gua horisontal yang lama dan membentuk surupan (sumuran gua).
            Gua memiliki sifat yang khas dalam mengatur suhu di dalamnya, yaitu apabila suhu di sekitar/luar gua panas,maka suhu udara di dalam gua akan sejuk. Begitu juga sebaliknya,bila kondisi diluar goa dingin, maka suhu di dalam pun akan terasa hangat. Sifat inilah yang menjadikan gua sebagai tempat berlindung dari beberapa mahkluk hidup. Gua-gua di kawasan Indonesia dan pulau Jawa sebagian besar  adalah gua batu gamping, atau gua karst.
Gua yang merupakan lintasan air dimasa lampau, dan kini telah kering di kategorikan ke dalam goa fosil. Dan gua yang terlihat di aliri aliran air, maupun di rembesi air pada dinding-dindingnya di kategorikan ke dalam goa aktif. Oleh karena itu mempelajari gua tidak terlepas dari mempelajari hidrologi karst dan segala fenomena karst di bawah permukaan (endokarst) agar kita memahami bagaimana terjadinya gua dan bagaimana memanfaatkan sumber alamnya, yang mempunyai nilai estetika sebagai objek wisata gua, ataupun sumber air,tanpa mencemarinya.
ORNAMEN DAN KEINDAHAN GUA

Bentuk ornamen-ornamen gua merupakan keindahan alam yang jarang kita jumpai di alam terbuka. Di tengah kegelapan abadi proses pengendapan berlangsung hingga membentuk ornamen-ornamen gua ( speleothem ). Proses ini disebabkan karena a ir tanah yang menetes dari atap gua mengandung lebih banyak CO2 daripada udara sekitarnya.
Dalam rangka mencapai keseimbangan, CO2 menguap dari tetesan air tersebut. Hal ini menyebabkan berkurangnya jumlah asam karbonat, yang artinya kemampuan melarutkan kalsit menjadi berkurang. Akibatnya air tersebut menjadi jenuh kalsit (CaCO3) dan kemudian mengendap. Berbagai ornamen gua yang sering di jumpai :
v  Stalaktit
Terbentuk dari tetesan air dari atap gua yang mengandung kalsium karbonat (CaCO3 ) yang mengkristal, dari tiap tetes air akan menambah tebal endapan yang membentuk kerucut menggantung dilangit-langit gua. Berikut ini adalah reaksi kimia pada proses pelarutan batu gamping :  CaCO3 + CO2 + H2O à Ca2 + 2HCO3
v  Stalagmit
Merupakan pasangan dari stalaktit, yang tumbuh di lantai gua karena hasil tetesan air dari atas langit-langit gua.
v  Tirai
Tirai terbentuk dari air yang menetes melalui bidang rekahan yang memanjang pada langit-langit yang miring hingga membentuk endapan cantik yang berbentuk lembaran tipis vertical yang berjejer/ bersekat.
v  Teras

Teras Travertin merupakan kolam air di dasar gua yang mengalir dari satu lantai tinggi ke lantai yang lebih rendah, dan ketika mereka menguap, kalsiumkarbonat diendapkan di lantai.

ROCK CLIMBING

1. Sejarah Panjat Tebing Indonesia
Pada sekitar tahun 1960, perkembangan panjat tebing di Indonesia dimulai, dimana Tebing 48 di Citatah, Bandung. mulai dipakai sebagai ajang latihan oleh pasukan TNI AD. Tahun 1976, merupakan awal mula panjat tebing modern di Indonesia dimulai, yaitu ketika Harry Suliztiartomulai berlatih memanjat di Citatah, Bandung dan diteruskan dengan mendirikan SKYGERS ''Amateur Rock Climbing Group'' bersama tiga orang rekannya, Heri Hermanu, Dedy Hikmat dan Agus R, yang pada tahun 1977.

Tahun 1979, Harry Suliztiarto memanjat atap Planetarium Taman Ismail Marzuki, Jakarta. yang merupakan upaya mempublikasikan olahraga panjat tebing di Indonesia. Skygers mengadakan Sekolah Panjat Tebing yang pertama pada tahun 1981.
Tahun 1980, Tebing Parang, Purwakarta, Jawa Barat. Untuk pertama kalinya dipanjat oleh team ITB, dan masih pada tahun yang sama Wanadri menjadi team Indonesia pertama yang melakukan ekspedisi ke Cartenzs ''Pyramide'', mereka gagal sampai puncak, namun berhasil di Puncak Jaya dan Cartenzs Timur.

Tahun 1982, terjadi tragedi dengan merenggut korban tewas pertama panjat tebing Indonesia adalah Ahmad, salah satu pemanjat asal Bandung, tragedi terjadi ketika melakukan pemanjatan pada Tebing 48 di Citatah. Pada tahun 1984, Skygers dan Gabungan Anak Petualang memanjat Tebing Lingga di Trenggalek, Jawa Timurserta Tebing Ulu Watu di Bali. Tahun 1985, Tebing Sorelo, Lahat, Sumatra Selatan. dipanjat oleh Team Ekspedisi Anak Nakal. Pada tahun 1986, Kelompok Gabungan Exclusive berhasil memanjat Tebing Bambapuang di Sulawesi Selatan, Lalu Kelompok Unit Kenal Lingkungan Universitas Padjajaran memanjat Gunung Lanang di Jawa Timur, Team Jayagiri merampungkan Dinding Ponot di Bendungan, Si Gura-gura, Sumatra Utara. Ekspedisi Jayagiri mengulang pemanjatan Eiger, berhasil dengan menciptakan lintasan baru. Sebagai catatan, bahwa kompetisi panjat tebing pertama di dunia diselenggarakan di Uni Soviet, kompetisi dilaksanakan pada tebing alam dan sempat ditayangkan oleh Televisi Republik Indonesia.

Tercatat pada tahun 1987, Ekspedisi Wanadri yang menyelesaikan pemanjatan di Tebing Unta di Kalimantan Barat, Kelompok Trupala memanjat Tebing Gajah di Jawa Tengah dan Skygers memanjat Tebing Sepikul di Jawa Timur. Pada tahun ini pula lomba panjat tebing di Indonesia yang pertama dilaksanakan, yaitu di Tebing Pantai Jimbaran, Bali. Tahun 1988, Kantor Menpora bekerjasama dengan Kedutaan Besar Perancis mengundang empat pemanjat mereka untuk memperkenalkan dinding panjat serta memberikan kursus pemanjatan. Pada akhir acara, terbentuk Federasi Panjat Gunung dan Tebing Indonesia(FPTGI), yang diketuai oleh Harry Suliztiarto. Pada tahun yang sama Aranyacala Trisakti mengadakan ekspedisi panjat tebing, pada Tower III, Tebing Parang, Jawa Barat. yang dipanjat oleh kelompok yang kesemua anggotanya putri. Kelompok putranya memanjat Tebing Gunung Kembardi Citeureup, Bogor.

Sandy Febryanto (Alm) dan Djati Pranoto melakukan panjat kebut yang pertama dilakukan di Indonesia, di Tower I Tebing Parang, yang mana merupakan pemanjat tebing besar pertama yang dilakukan tanpa menggunakan alat pengaman, waktu yang diperlukan adalah empat jam. Pada tahun ini(1988), Ekspedisi Jayagiri Speed Climbing memerlukan waktu lima hari pemanjatan dan menjadi penyebab kagagalan untuk memenuhi target dua hari pemanjatan di Dinding Utara Eiger, Alpen, Perancis. Sedangkan ekspedisi dari Pataga Jakarta berhasil menciptakan lintasan baru pada dinding yang sama. Keberangkatan Sandy Febriyanto dan Djati Pranoto ke Yosemite, AS. untuk memanjat Half Dome guna memecahkan rekor Speed Climbing, pada tahun 1988, dan mengalami kegagalan pula di El Capitan.

Sejarah Panjat Tebing Modern di Indonesia
21 April 1988 14.45 WIB Kaum Pendaki Tebing/Gunung menyatakan Pembentukan Federasi Pemanjat Gunung Indonesia di Tugu Monas. Dokumen ini pada perjalanannya berubah menjadi Federasi Panjat Tebing Indonesia. Dan hingga ini federasi pendaki gunung masih belum keliatan. Tahun 1989, dunia panjat tebing Indonesia merunduk dilanda musibah dengan gugurnya salah satu pemanjat terbaik: Sandy Febriyanto, terjatuh di Tebing Pawon, Citatah, Bandung. Tapi tak lama, semangat almarhum seolah justru menyebar ke segala penjuru, memacu pencetakan prestasi panjat tebing di bumi pertiwi ini, seperti: Ekspedisi Putri Lipstick Aranyacala memanjat Tebing Bambangpuang, lalu dari Arek Arek Young Pioner Malang memanjat Tebing Gajah Mungkur di seputaran Kawah Gunung Kelud, Kelompok Mega dari Univeritas Taruma Negara mengadakan Ekspedisi Marathon Panjat Tebing yang merambah tebing-tebing Citatah, Parang, Gajah Mungkur dan berakhir di Uluwatu, Bali. dalam waktu hampir sebulan, ini merupakan marathon panjat tebing pertama di Indonesia.

Pada tahun ini(1989) tak kurang sepuluh kejuaraan panjat tebing diselenggarakan, beberapa yang besar diantaranya: Unpad Bandung, Tri Sakti Jakarta, ISTN Jakarta, Markas Kopassus Grup I di Serang, dua kali oleh Trupala Jakarta (Balai Sidang Ancol). Kelompok Kapa Ul dan Geologi ITB. Di akhir tahun 1989, ditutup dengan gebrakan Budi Cahyono yang melakukan pemanjatan solo di Tebing Tower III Parang, ini merupakan artificial solo Climbing pertama pada tebing besar di Indonesia.

Tahun 1990, Lomba Panjat Dinding Nasional (LPDN) di gelar di Jakarta, dengan ketinggian 15 meter dan dibangun empat sisi. Pada tahun ini pula, Pataga Jakarta mendaki Puncak Carstenz Pyramide dan Puncak Jaya. Tahun 1991, Rapat Paripurna Nasional FPTI yang pertama di selenggarakan di Puncak Jabar. Pada tahun ini, untuk pertama kalinya Indonesia mengirimkan atlit panjat tebing di kejuaraan Oceania- Australia, empat atlit yang dikirim hanya Andreas dan Deden Sutisna yang mendapat peringkat keempat dan lima. Dengan keikutsertaan ini membuka mata dunia panjat tebing Internasional, bahwa Indonesia sudah memepunyai atlit panjat tebing berskala Internasional. FPTI mengeluarkan peraturan panjat dinding pertama dan Pengda FPTI Jatim bekerjasama dengan Impala Univeritas Merdeka Malang yang mengadakan Climbing Party di Lembah Kera, diikuti oleh puluhan pemanjat, membuat jalur-jalur pada Lembah Kera dan diskusi panjat tebing.

Gabungan tim panjat tebing Putri yang terdiri dari Atlet Aranyacala Trisakati, Mahitala Unpar dan IKIP Bandung Mengadakan pemanjatan di Half Dome, AS. Ekspedisi pemanjatan putri tahun 1991 di Cima, Ovest, Italy. Pada tahun ini pula tercatat beberapa kecelakaan di dinding panjat: Zainudin tewas di Samarinda karena tidak memasang pengaman, tiga pemanjat lagi jatuh dan cedera (lumpuh dan patah tulang), semua kejadian tersebut disebabkan oleh tidak diikutinya prosedur keselamatan pemanjatan. Satu prestasi lagi dilakukan oleh Maully MW Wibowo, melakukan pemanjatan solo (free solo) pertama di Bambapuang.
Tahun 1992, Kejurnas Panjat Tebing I, di selenggarakan di Padang. Tampil sebagai juara adalah kontingen dari Jakarta. Ronald Marimbing dan Panji Santoso mengikuti Asian Championship di Seoul. Sementara Mamay S, Salim dan Maully MW Wibowo mengikuti kursus Juri dan Pembuat Jalur disambung dengan Rapat CICE Asia. Budi Cahyono, yang dikontrak oleh perusahaan Rokok, berangkat ke Taiwan untuk melakukan Pemanjatan Iklan. FPTI diterima secara resmi menjadi anggota UIAA, disusul dengan pengiriman ke Rapay CICE Asia di Hongkong.

Pada tahun 1994, Tim FPTI gagal berangkat ke Fixroy dan Aconcagua. Secara resmi FPTI menjadi Anggota KONI yang ke 50. Ronald M dan Nunun Masruruh menduduki peringkat ke sembilan dan keduabelas di kejuaraan Asia ke III di Jepang, sementara Hendricus Mutter rapat CICE di Jepang. Mamay S’Salim dan Kresna Huiarna melakukan pembuatan jalur di tebing-tebing Taiwan.
Tahun 1995, Rapat Paripuma Nasional FPTI III, terselenggara di Kaliurang, Yogyakarta. Kejumas Panjat Tebing ke III diadakan di Alun-alun Utara Yogyakarta, dan Juara Umum diboyong oleh DKI Jakarta dengan menggeser kontingen Jawa Barat dan Sumatra Barat. Dalam Kejumas III ini pula mulai dilombakan kelas panjat Speed yang pertama diadakan di Indonesia. Masih pada bulan yang sama, tahun 1995, di Yogyakarta diadakan pula kursus Juri dan Pembuat Jalur, diikuti oleh Pengurus Pengda FPTI series dari ABRI dan Pramuka.

Pada tahun 1997, Asmujiono dan disusul Missirin (Kopassus) yang tergabung dalam expedisi gabungan sipil dan militer ke Puncak Everest, berhasil mencapai puncak dan berhasil menjadi orang Asia Tenggara pertama yang mencapai Puncak Everest. Tahun 2000, panjat tebing resmi menjadi cabang olah raga yang dipertandingkan di Pekan Olahraga Nasional ke XV, di Surabaya sebagai cabang olahraga mandiri. Pada tahun yang sama, Sekolah Vertical Rescue angkatan pertama diselengggarakan oleh Perguruan Panjat Tebing SKYGERS Indonesia dengan jenazah Roni Aral yang berhasil dievakuasi oleh tim vertical rescue SKYGERS dari kedalaman 600m di Gunung Cikuray, Jawa Barat. Tahun 2001, tim vertical rescue SKYGERS terlibat dalam evakuasi dua jenazah di Gunung Salak, Jawa Barat.

Pada tahun 2003, rekor baru pembuatan jalur panjat tebing alam terbanyak tercipta sebanyak 400 buah jalur pemanjatan oleh Tedi Ixdiana. Tebing Siung di Kawasan Yogjakarta digempur oleh tim SKYGERS , berakhir dengan terciptanya 45 jalur. Tedi Ixdiana dan Tim MATRA membuat jalur free climbing pertama di Gunung Krakatau, Selat Sunda. Pada Tahun 2004, Pemanjatan Tebing Pantai Jawa dan Bali oleh SKYGERS dan Tim EXPEDITION METRO TV 2004. termasuk pemanjatan Tebing Mandu, Indonesia. Tahun 2004 panjat tebing resmi menjadi cabang olahraga yang memperebutkan medali di PON 2004. Sesuai SK FPTI No. 108/SKEP-PPFPTI/07.04 cabang panjat tebing pada PON 2004 memperebutkan 14 medali emas.

Tahun 2005, Indonesia menggirimkan Tedi Ixdiana dan Murjayanti untuk mengikuti kejuaraan panjat tebing alam “International Invitation Tournament”, di Huguan Taihang Mountain Gorges, Chiangzhi, China. Pada tahun yang sama pula, pemanjatan pada tujuh air terjun di Indonesia diprakarsai oleh tim EXPEDITION-MERTO TV dan SKYGERS. Pedoman Kompetisi (PDK) Panjat Tebing Indonesia diterbitkan. PDK berisi peraturan untuk mempersiapkan dan menjalankan kompetisi panjat tebing yang sangat komprehensif. Isi PDK mengacu pada Competition Rules yang dikeluarkan oleh UIAA.
Tahun 2006 Sirkuit Panjat Tebing Indonesia pertama kali digelar di Musi Banyuasin. Amri (Jawa Barat) dan Emi Zainah (DKI Jakarta) sebagai juara untuk nomor lead putra dan putri. Nomor kecepatan putra dan putri dijuarai oleh Abudzar Yulianto (Jawa Timur) dan Evi Neliwati (Jawa Timur), sedangkan nomor Jalur-pendek keluar sebagai juara pertama adalah kembali Abudzar Yulianto dan Hj WIlda keduanya mewakili propinsi Jawa Timur. Sirkuit Panjat Tebing Indonesia II dilakukan di Samarinda, Kalimantan Timur pada tanggal 1 September 2006. Pada sirkuit ini pertama kali dilombakan kompetisi untuk para pemanjat dari kalangan militer/kepolisian dimana Praka Bobby Sahanaya (Denarhanud Rudal 002 Bontang) keluar sebagai juara di nomor kecepatan sedangkan untuk nomor kecepatan peringkat pertama diraih oleh Agus Setiawan (Brimob Satuan III/Pelopor Kelapa Dua Jakarta).

Tahun 2007 FPTI menggelar Musyawarah Nasional yang menghasilkan perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang telah menyesuaikan dengan UU Sistem Keolahragaan Nasional (UU No. 3 tahun 2005).
Evi Neliwati mencatatkan namanya sebagai pemanjat tebing Indonesia pertama yang meraih peringkat pertama pada Seri Kejuaraan Dunia (World Cup Series) 2007 yang dilaksanakan di Singapura. Evi menyisihkan saingan terberatkan dari Rusia. Catatan ini seolah menghapus kutukan bahwa para pemanjat kita seperti Etta Handrawati, Erianto Rojak dan lainnya yang selalu kalah dari para pemanjat Rusia.

Pada PON 2008 Kalimantan Timur, cabang olahraga panjat tebing memperebutkan 21 medali emas dari nomor perorangan dan beregu. May 2010 Sport Climbing resmi menjadi cabang olahraga resmi SEA Games 2011, hal ini diputuskan dalam Pertemuan the SEA Games Federation di Jakarta 30 May 2010.  Berita Gembira merupakan hasil dari perjuagan panjang komunitas panjat tebing se-Asia Tenggara yang dimotori oleh The Southeast Asia Climbing Federaion (SEACF) sejak terbentukan lembaga tersebut tahun 1996 di Jakarta. Pada 2011 panjat tebing pertama kali menjadi cabang olahraga yang memperebutkan medali yaitu sebanyak 10 medali emas pada SEA Games 2011 Palembang, Indonesia. Keputusan itu dihasilkan pada pertemuan the SEA Games Federation Maret 2011 di Bali, Indonesia. 13 Nopember 2011 Aan Aviansyah (21) atlit panjat tebing Indonesi berhasil mengukirkan namanya sebagai atlit pertama yang meraih medali emas pada cabang olahraga Panjat Tebing pada ajang SEA Games XXVI 2011 di Jakabaring, Palembang, Sumetara Selatan. Tim panjat tebing Indonesia meraih 9 dari 10 emas yang diperebutkan, hasil ini menjadi penghalang utama cabang panjat tebing pada SEA Games berikutnya.

Pemandu WIsata Panjat Tebing: Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Pemandu Wisata Panjat Tebing terbit sesuai Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.194 Tahun 2011. Standar ini sejatinya untuk memastikan bahwa tebing-tebing Indonesia akan menjadi target tujuan wisata global dan pemandu pemanjatan adalah anak bangsa sendiri.
Panjat Tebing Post Modern 12 Desember 2012 Tedi Ixdiana dan kawan-kawan meproklamirkan berdirinya Komunitas Panjat Tebing Merah Putih yang mempunyai fokus kegiatan pada panjat tebing alam antara lain pembukaan dan pembuatan jalur pemanjatan, pendataan tebing dan jalur pemanjatan, konservasi tebing alam, pembentukan jejaring vertikal rescue.

30 Desember 2013 Katalog Panjat Tebing Indonesia terbit secara online di media Internet. Katalog ini berisi data-data kawasan, tebing dan jalur panjat tebing yang ada di seluruh Indonesia. Pada perjalanannya katalg juga berisi istilah dan dokumen terkait dengan panjat tebing. Katalog ini merupakan kontribusi dari Komunitas Panjat Tebing Merah Putih dimana pengumpulan data dilakukan sejak pertengahan tahun 2011. 19-26 Nopember 2013 Komunitas Panjat Tebing Merah Putih membuka kawasan pemanjatan pertama di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Pada kegiatan tersebut dituntaskan pembuatan Jalur ke-1.000 untuk Indonesia di tebing Mama Painemo, Teluk Kabui, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat.

10 Januari 2014 berdiri komunitas panjat tebing di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat dibawah naungan Komunitas Panjat Tebing Merah Putih. Gerakan post modern ini sepertinya ingin mengembalikan ruh kegiatan panjat tebing pada tebing alam yang terbentang dari Sabang sampai Merauke yang jumlahnya ribuan itu, yang jika tidak mulai dipikirkan hanya akan jadi tontonan tuan rumah. 15 Mei 2014 sudah dipastikan bahwa panjat tebing tidak menjadi cabang olahraga yang dilombakan pada pesta olahraga Asia Tenggara (SEA Games) 2015 di Singapura. Kepastian ini berdasarkan hasil pertemuan the SEA Games Federation yang diadakan di Singapura.
Lembaga Panjat Tebing di Indonesia
1. Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI)
2. Pengurus di tingkat propinsi
3. Badan Standarisasi Pemanjatan Indonesia
4. Lembaga Pelatihan dan Sertifikasi Panjat Tebinng Indonesi
DI setiap propinsi ada pengurus tingkat kota atau kabupaten.

2. DEFINISI PANJAT TEBING
Panjat Tebing adalah Seni olahraga atau Hobi yang dilakukan dengan mengandalkan kelenturan dan kekuatan otot serta tekhnik tersendiri untuk memanjat mencapai Puncak Tertinggi.
3. ETIKA PEMANJATAN
Secara umum etika pemnjatan sama dengan etika – etika dalam penjelajahan alam lain:
Dilarang mengambil sesuatu kecuali gambar
Dilarang meninggalkan sesuatu kecuali jejak
Dilarang membunuh sesuatu kecuali waktu
Secara khusus ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam etika panjat tebing adalah sebagai berikut :
Menghormati adat istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat.
Menjaga kelestarian alam.
Merintis jalur baru.
Memanjat jalur bernama.
Pemberian nama jalur.
Memberi keamanan bagi pemanjat lain
4. ALAT – ALAT PEMANJATAN
Alat-alat yang diguanakan dalam pemanatan artificial
a) Tali carmentel
  Biasanya yang digunakan adalah tali yang memiliki tingkat kelenturan atau biasa disebut dynamic rope. Secara umun tali di bagi menjadi dua macam yaitu :
Static adalah tali yang mempunyai daya lentur 6% – 9%, digunakan untuk tali fixed rope yang digunakan untuk ascending atau descending. Standart yang digunakan adalah 10,5 mm.

Dynamic adalah tali yang mempunyai daya lentur hingga 25%, digunakan sebagai tali utama yang menghubungkan pemanjat dengan pengaman pada titik tertinggi.
 
b) Harnest adalah alat pengikat di tubuh sebagai pengaman yg nantinya dihubungkan dengan tali.
 
c) Carabiner adalah cincin kait yg terbuat dari alumunium alloy sebagai pengait dan dikaitkan dgn alat lainnya.
– Karabiner Skrup/carabiner srew gate
   
– Karabiner Snap/carabiner non screw gate
 
d) Helmet adalah pelindung kepala yg melindungi kepala dari benturan dari benda-benda yang terjatuh dari atas.
 
e) Webbing, peralatan panjat yg berbentuk pipih tidak terlalu kaku dan lentur, biasa digunakan sebagai harnest
 
f) Prusik, merupakan jenis tali carmentel yg berdiameter 5-6 mm, biasanya digunkan sbg pengganti sling runner dan juga dpt digunakan untuk meniti tali keatas dengan menggunakan simpul prusik, seperti pada SRT.
 
g) Sepatu Panjat, sbg pelindung kaki dan mempunyai daya friksi yg tinggi sehingga dpt melekat di tebing. Jenisnya sendiri yang sering digunakan adalah soft (lentur/fleksibel) dan hard (keras)
 
h) Chock bag/Calk bag, sebagai tempat MgCo3 (Magnesium Carbonat) yg berfungsi agar tangan tdk licin karena berkeringat sehingga akan membantu dalam pemanjatan.

i) Descender, peralatan yg digunakan untuk meniti tali kebawah serta mengamankan leader disaat membuat jalur, biasanya yg sering digunakan adalah figure of eight dan auto stop.

j) Ascender, peralatan yg digunakan untuk meniti tali ke atas dan secara otomatis akan mengunci bila dibebani. Jenis yang digunakan biasanya jumar dan croll

k) Grigri, alat ini digunakan untuk membelay, alat ini mempunyai tingkat keamanan yg paling tinggi karena dapat membelay dengan sendirinya.

l) Hammer, berfungsi untuk menanamkan pengaman dan melepaskan kembali, biasanya yg diapakai jenisnya ringan dan mempunyai kekuatan tinggi dan ujungnya berfungsi mengencangkan mur pada saat memasang hanger.

m) Pulley, mirip katrol, kecil dan ringan tetapi memiliki kemampuan dalam beban yg berat. Digunakan untuk perlengkapan evakuasi.

n) Handdrill, merupakan media untuk mengebor tebing secara manual, yg berfungsi untuk menempatkan pengaman berupa bolt serta hanger.





5. SIMPUL YANG DIGUNAKAN DALAM PEMANJATAN
Simpul – simpul yang digunakan dalam pemanjatan
Simpul Delapan Ganda
Untuk pengaman utama dalam penambatan dan pengaman utama yang dihubungkan dengan tubuh atau harnest. Toleransi 55% – 59%.

Simpul Delapan Tunggal
Untuk pengaman utama dalam penambatan dan pengaman utama yang dihubungkan dengan tubuh atau harnest apabila carabiner tidak ada Toleransi 55% – 59%.

Simpul Pangkal
Untuk mengikat tali pada penambat yg fungsinya sebagai pengaman utama (fixed rope) pada anchor natural dsb. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang sebesar 45%.

Simpul Jangkar
Untuk mengikat tali pada penambat yg fungsinya sebagai pengaman utama (fixed rope) pada anchor natural dsb. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang sebesar 45%.

Simpul Jangkar
Simpul Kambing / bowline knot
Untuk pengaman utama dalam penambatan atau pengaman utama yang dihubungkan dengan penambat atau harnest. Toleransi 52%.

Simpul Kupu – kupu / Butterfly knot
Untuk membuat ditengah atau diantara lintasan horizon. Bisa juga digunakan untuk menghindari tali yang sudah friksi. Toleransi terhadap kekuatan tali 50%.

Simpul Nelayan / Fisherman Knot
Untuk menyambung 2 tali yang sama besarnya dan bersifat licin. Toleransi 41% – 50%

Simpul Frusik
Simpul yang digunakan dalam teknik Frusiking SRT

Simpul Pita
Untuk Menyambung Tali yang sejenis, yang sifatnya licin atau berbentuk pipih (umumnya digunakan untuk menyambung Webbing)

Simpul Italy
Untuk repeling jika tidak ada figure eight atau grigri. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang 45%.

6. BAGIAN – BAGIAN TEBING
– Poin : Bagian Pada Tebing yang bias dijadikan tempat Pegangan dan Pijakan
– Rekahan : Bagian Tebing Yang retak membentuk rekahan
– Rock : Bagian/ Poin tebing yang terjatuh kedasar tebing
– Roof : Bagian Tebing yang berbentuk Kursi terbalik.
7. JENIS ANCOR
Natural Ancor/ Penambat Alami adalah penambat alamiah yang tersedia oleh alam,Contoh : Batang pohon, Akar pohon, Batu besar yang dijamin kuat
Artificial Ancor/ Penambat Buatan adalah Alat yang didesain secara khusus untuk digunakan sebagai penambat, contoh : Piton, sky hook, Brigbo, ramset, hunger, stoper,
Contoh – contoh Artificial ancor:
1) Paku Piton
Merupakan pengaman sisipan yg berguna sebagai pasak.
2) Stopper
Digunakan untuk celah vertical yg menyempit kebawah dengan prinsip kerja menjepit celah membentuk sudut atau menyempi
3) Sky Hook
Sebagai pengaman sementara dengan prinsip kerja menyisipkan ujung sky hook pada celah bebatuan dan harus terbebani, usahakan meminimalkan gerak.
4) Ramset dan Hanger
Satu set peralatan dalam artificial climbing yg berfungsi untuk menanamkan bolt dan kemudian digabungkan dengan hanger sehingga menjadi pengaman tetap.
5) Friend
Pengaman yg diselipkan pada celah batu dengan bermacam ukuran. Friend ada 2 macam :
– Regular Friend
Terbuat dari allumunium alloy dan mempunyai kelemahan yaitu berbentuk static/tidak mempunyai kelenturan. Alat ini bekerja dengan baik dicelah overhang.
– Fleksibel Friend
Bentuknya sama dengan regular friend hnya mempunyai kelebihan terbuat dari kawat baja yg menjadikan friend ini sangat fleksibel, dan dapat dipasang disemua celah dan segala posisi.
6) Hexa
Prinsip kerja sama dengan stopper hanya berbeda pada bentuk round (bulat) dan hexagonal (segi enam).
7) Chocker
Alat bantu yg berfungsi untuk melepaskan hexa atau stopper yg terkait di celah batu.
8) Etrier/tangga gantung &daisy chain
Etrier : alat yg terbuat dari webbing yg menyerupai tangga untuk membantu menambah ketinggian.
Daisy chain : terbuat dari webbing, berfungsi untuk menambah ketinggian serta menjaga apabila etrier jatuh.
8. KODE – KODE YANG DIGUNAKAN DALAM PEMANJATAN

Kode – kode pemanjatan adalah sebagai berikut :
Climb : Pemanjat Menginstrusi kepada Pembilay bahwa pemanjat siap memanjat
Climbing : Pembilay Memberitahukan kepada pemanjat bhw dia siap mengamankan
pemanjat
On Belay : Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay bahwa pemanjat memulai
memanjat
Belay On : Pembilay Memberitahukan kepada pemanjat bahwa dia telah mengamankan pemanjat
Full : Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay agar tali dikencangkan
Slack : Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay agar tali dikendorkan
Rock : Pemanjat Memberitahukan kepada orang yang berada dibawah bahwa ada
batuan tebing yang jatuh
Top : Pemanjat Memberitahukan bahwa dia telah sampai pada puncak
Belay of : Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay bahwa dia tidak membutuhkan
lagi pengamanan
Of Belay : Pembilay Menginstrusi kepada pemanjat bahwa dia tidak mengamankan lagi
9. JENIS PEGANGAN
a. Open Grip : Pegangan pada pemanjatan yang dilakukan dengan posisi tangan
terbuka,biasanya digunakan pada tebing – tebing datar
b. Cling Grip : Pegangan pada pemanjatan yang dilakukan degan menggunakan seluruh jari tangan dan dan agak mirip mencubit biasanya digunakan pada tebing
yang permukaannya banyak tonjolan,
c. Pinch Grip : Pegangan pada pemanjatan yang mirip dengan mencubit,dan
mengandalkan kekuatan jempol dan telunjuk yang biasa digunakan untuk
memegang poin – poin kecil pada tebing
d. Poket Grip : Pegangan pada pemanjatan dilakukan dengan cara memasukkan jari– jari kedalam celahan/ lobang tebing, biasanya digunakan pada tebing
limenstone (kapur) yang banyak memiliki poin lobang.
e. Vertikal Grip : Pegangan pada pemanjatan yang bertumpu pada poin tebing dengan menggunakan kekuatan lengan untuk bertumpu dan menaikkan badan.
10. JENIS PIJAKAN
Frinction Steep : Pijakan dalam pemanjatan yang bertumpu pada kaki bagian depan dan mengandalkan gesekan karet sepatu.
Eadging : Pijakan dalam pemanjatan yang menggunakan sisi luar kaki.
Mearing : Pijakan dalam pemanjatan yang menggunakan seluruh alas kaki (Pijakan Biasa)
Hel Hooking : Pijakan dalam pemanjatan yang dilakukan untuk mengantisipasi
poin2 yang menggantung dengan menggunakan kekuatan kaki untuk mengangkat badan keatas untuk menggapai poin selanjutnya.
11. JENIS – JENIS/ TEKHNIK PEMANJATAN
a) Artificial Climbing
Adalah olahraga yang dilakukan pada tebing-tebing dengan tingkat kesulitan yang tinggi dengan bermodalkan alat yang diselipkan pada celah-celah batu atau memanfaatkan pengaman alam (natural anchor). Artificial climbing ini dimana alat benar-benar digunakan sebagai penambah ketinggian disampin sebagai pengaman pemanjatan.
b) Soloing
Adalah Pemanjatan yang dilakukan dengan mengandalkan kekuatan tubuh untuk langsung mencapai top tanpa menggunakan pengaman, biasanya dilakukan oleh pemanjat profesional karna sangat berbahaya.
c) Boldering
Pemanjatan yang dilakukan untuk melatih kekuatan dan kelenturan badan yang biasanya dilakukan secara enyamping pada tebing – tebing pendek atau tebing buatan.
d) Free Climbing
Pada prinsipnya hampir sama dengan pemanjatan artificial hanya dalam free climbing alat digunakan hanya sebagai pengaman saja sedangkan untuk menambah ketinggian menggunakan pegangan tangan dan friksi (gaya gesek) kaki sebagai pijakan.
e) Runer to runer
Pemanjatan yang dilakukan tahap demi tahap,dilakukan pada pemanjatan yang sudah memiliki jalur yang berupa ancor/penambat, biasa juga diperlombakan pada wall buatan.
12. SISTEM PEMANJATAN PEMANJATAN
  Alphine Tactis (Alpine Push)
Adalah system pemnjatan yang mana pemanjat melakukan pemanjatan sampai puncak tanpa turun ke basecamp, jadi pemanjat selalu berada di tebing saat tidur sekalipun (tidur gantung/hanging bivouak). Didalam system pemanjatan ini segala aktifitas di luar pemanjatan akan dilakukan di tebing, untuk ini segala peralatan dan perbekalan harus benar-benar diperhitungkan, misal kebutuhan makan, minum dan lain-lain. Penggunaan sistem ini juga harus memperhitungkan personil yang bertugas untuk mengangkat barang-barang yang banyak tersebut dengan teknik load carry sehingga membutuhkan personil minimal tiga orang (1 orang leader, 1 orang bellayer dan 1 orang load carry).
  Himalayan Tactic (Siege Tactic / Himalayan Style)
Adalah Pemanjatan hanya dilakukan hingga sore hari, kemudian pemanjat turun ke camp dasar dan pemanjatan dilanjutkan keesokan harinya.Tali yang digunakan sampai picht terakhir ditinggal untuk melanjutkan pemanjatan, Jadi sebelum melanjutkan pemanjatan leader dan bellayer jumaring sampai picht terakhir, baru kemudian melanjutkan pemanjatan. Kelebihan-kelebihan system ini adalah dalam pemanjatan cukup dibutuhkan dua personil untuk membuka jalur (leader dan bellayer), tidak diperlukan load carry dan hanging bivoak, walaupun hanya satu personel yang mencapai puncak pemanjatan sudah dianggap berhasil, yang terakhir pemanjat dapat melakukan istirahat dengan nyaman dibase camp. Kekurangan nya ialah membutuhkan banyak peralatan terutama tali, Panjang tali disesuaikan dengan panjang lintasan yang akan dilakukan dalam pemanjatan, pemanjatan yang menggunakan system ini membutuhkan waktu lebih lama.

13. MACAM – MACAM TEBING
Beberapa batuan yang sering dijumpai yang terutama lokasi dimana sering dijadikan ajang pemanjatan di Indonesia.
Batuan Limenstone Batuan yang banyak memiliki lobang – lobang dan berwarna putih.
Batuan Beku- Andersit,berwarna hitam keabu-abuan massif dan kompak
– Lava Andersit,seperti andersit dan biasanya dijumpai lubang-lubang kecil bekas keluarnya gas dan dijumpai dengan kesan berlapis
– Breksi lava,menyerupai batu breksi pada umumnya
– Granit,berwarna terang dengan warna dasar putih
Batuan Sedimen
– Batu Gamping,berwarna putih kekuningan,kompak,banyak dijumpai retakan atau lubang,dan biasanya berlapis.
– Breksi Sedimen,seperti halnya breksi lava tapi batu ini biasanya berupa batu pasir.
Batu Metamorf
Hampir sama dengan batu gamping tapi disini sudah mengalami rekristalisasi dan warnanya sangat beragam.


Cerita Hidup Memasuki Pecinta Alam


Ini cerita saya sebelum saya menyadari bahwa dunia dan alam ini perlu kita jaga. Agar kita dapat menikmatinya di kemudian hari. Sadarkah anda bahwa alam kita sudah Rusak. Kerusakan yang semakin hari semakin menjadi-jadi tampa kita sadari. Mari bersama kita hargai, lestarikan dan kita jaga apa yang sudah tuhan berikan kepada kita. Demi kelangsungan hidup kita bersama, bayangkan jika suatu saat nanti kita tidak dapat lagi melihat indahnya alam kita ini. Dimana kita akan melepukan hiruk pikuk kota, menenangkan hati dan